Jumat, 10 Januari 2014

Psikologi Komunikasi dan Pesan



PSIKOLOGI KOMUNIKATOR DAN PESAN
TOKOH SULTAN MUHAMMAD AL-FATIH


SULTAN MUHAMMAD AL- FATIH
(Sang Penahluk Konstantinopel)
 

Diskripsi Singkat Tokoh
Sultan Mehmed II atau juga dikenal sebagai Muhammad Al-Fatih (bahasa Turki Ottoman: Meḥmed-i sānī, bahasa Turki: II. Mehmet, juga dikenal sebagai el-Fatih, "sang Penakluk", dalam bahasa Turki Usmani, atau, Fatih Sultan Mehmet dalam bahasa Turki; 30 Maret 14323 Mei 1481) merupakan seorang sultan Turki Utsmani yang menaklukkan Kekaisaran Romawi Timur. Mempunyai kepakaran dalam bidang ketentaraan, sains, matematika & menguasai 6 bahasa saat berumur 21 tahun.
 Dari sudut pandang Islam, ia dikenal sebagai seorang pemimpin yang hebat, pilih tanding, dan tawadhu' setelah Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (pahlawan Islam dalam perang Salib) dan Sultan Saifuddin Mahmud Al-Qutuz (pahlawan Islam dalam peperangan di 'Ain Al-Jalut melawan tentara Mongol).
Kejayaannya dalam menaklukkan Konstantinopel menyebabkan banyak kawan dan lawan kagum dengan kepimpinannya serta taktik & strategi peperangannya yang dikatakan mendahului pada zamannya dan juga kaedah pemilihan tenteranya. Ia merupakan anak didik Syekh Syamsuddin yang masih merupakan keturunan Abu Bakar As-Siddiq.
Ia jugalah yang mengganti nama Konstantinopel menjadi Islambol (Islam keseluruhannya). Kini nama tersebut telah diganti oleh Mustafa Kemal Ataturk menjadi Istanbul. Untuk memperingati jasanya, Masjid Al Fatih telah dibangun di sebelah makamnya.
Sebelum-sebelumnya Nabi Muhammad SAW sudah meramal kanakan ada seorang Raja Islam yang akan menaklukkan konstantinopel seperti yang disabdakan olehNabi SAW:
"Konstantinopel akan ditaklukan oleh tentara Islam.Rajanya (yang menaklukan) adalah sebaik-baik raja dan tentaranya (yang menaklukan) adalah sebaik-baik tentara."

A.    Psikologi  Komunikator
Dalam konsep psikologi komunikator, proses komunikasi akan sukses apabila berhasil menunjukkan source credibility atau menjadi sumber kepercayaan bagi komunikan. Holand dan Weiss menyebut ethos sebagai credibility yang terdiri atas 2(dua) unsur, yaitu keahlian(expertise) dan dapat dipercaya(Trustworthinnes). Kedua unsur tersebut mutlak harus dimiliki oleh seorang komunikator agar bersifat kredibel.[1][1]
Aritoteles menyebutkan karakter komunikator sebagai ethos. Ethos terdiri dari pikiran baik (good sense), akhlak yang baik (good moral character), dan maksud yang baik (good will), serta perilaku yang baik (good manner)
Para cendekiawan modern menyebut ethos Aristoteles sebagai (1) Itikad Baik (good intentions), (2)Dapat Dipercaya (trustwordthinnes), (3) Kecakapan & Kemampuan (competence & expertness).
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi efektifitas komunikator pada tokoh Sultan Muhammad Al- Fatih adalah:
1.     Kredibilitas
Kredibilitas adalah kualitas, kapabilitas, atau kekuatan untuk menimbulkan kepercayaan. Dalam hal ini, kredibilitas adalah seperangkat persepsi komunikate tentang sifat-sifat komunikator. Dalam definisi ini terkandung dua hal: (1) Kredibilitas adalah persepsi komunikate, tidak inheren dalam diri komunikator; (2) Kredibilitas berkenaan dengan sifat-sifat komunikator.
Dimana Semenjak kecil, Sultan Muhammad Al-Fatih telah mencermati usaha ayahnya menaklukkan Konstantinopel. Bahkan beliau mengkaji usaha-usaha yang pernah dibuat sepanjang sejarah Islam ke arah itu, sehingga menimbulkan keinginan yang kuat baginya meneruskan cita-cita umat Islam. Ketika beliau naik tahta pada tahun 855 H/1451 M, dia telah mulai berpikir dan menyusun strategi untuk menawan kota bandar tadi.
Kekuatan Sultan Muhammad Al-Fatih terletak pada ketinggian pribadinya. Sejak kecil, dia dididik secara intensif oleh para 'ulama terulung di zamannya. Di zaman ayahnya, yaitu Sultan Murad II, Asy-Syeikh Muhammad bin Isma'il Al-Kurani telah menjadi murabbi Amir Muhammad (Al-Fatih). Sultan Murad II telah menghantar beberapa orang 'ulama untuk mengajar anaknya sebelum itu, tetapi tidak diterima oleh Amir Muhammad. Lalu, dia menghantar Asy-Syeikh Al-Kurani dan memberikan kuasa kepadanya untuk memukul Amir Muhammad jika membantah perintah gurunya.Waktu bertemu Amir Muhammad dan menjelaskan tentang hak yang diberikan oleh Sulthan, Amir Muhammad tertawa. Dia lalu dipukul oleh Asy-Syeikh Al-Kurani.
Peristiwa ini amat berkesan pada diri Amir Muhammad lantas setelah itu dia terus menghafal Al-Qur'an dalam waktu yang singkat. Di samping itu, Asy-Syeikh Ak Samsettin (Syamsuddin) merupakan murabbi Sultan Muhammad Al-Fatih yang hakiki. Dia mengajar Amir Muhammad ilmu-ilmu agama seperti Al-Qur'an, hadits, fiqih, bahasa (Arab, Parsi dan Turki), matematika, falak, sejarah, ilmu peperangan dan sebagainya.
Syeikh Ak Samsettin lantas meyakinkan Amir Muhammad bahwa dia adalah orang yang dimaksudkan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam di dalam hadits pembukaan Kostantinopel. Ketika naik takhta, Sultan Muhammad segera menemui Syeikh Semsettin untuk menyiapkan bala tentara untuk penaklukan Konstantinopel. Peperangan itu memakan waktu selama 54 hari. Persiapan pun dilakukan. Sulthan berhasil menghimpun sebanyak 250 ribu tentara. Para mujahid lantas diberikan latihan intensif dan selalu diingatkan akan pesan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam terkait pentingnya Konstantinopel bagi kejayaan Islam.

Dua komponen kredibilitas yang paling penting dari tokoh Muhammad Al-Fatih, adalah:
a.      Keahlian
Keahlian adalah kesan yang dibentuk komunikate tentang kemampuan komunikator dalam hubungannya dengan topic yang dibicarakan.Komunikator yang dinilai tinggi pada keahlian dianggap cerdas, mampu, ahli, tahu banyak, berpengalaman, atau terlatih.

b.      Kepercayaan
Kepercayaan adalah kesan komunikate tentang komunikator yang berkaitan dengan wataknya.Apaka komunikator dinilai jujur, tulus, bermoral, adil, sopan, dan tidak etis?Atau apakah bahkan sebaliknya.
2.      Atraksi
Factor-faktor situasional yang mempengaruhi atraksi interpersonal; daya tarik fisik, ganjaran, kesamaan, dan kemampuan.Faktor atraksi fisik dan kesamaan dalam hubungannya dengan efektivitas komunikasi, yakni mengubah sikap atau perilaku. Atraksi fisik menyebabkan komunikator menarik, dan karena menarik ia memiliki daya persuasive.
Sebagaimana yang terdapat dalam diri Sultan Muhammad Al-Fatih.  Kejayaannya dalam menaklukkan Konstantinopel menyebabkan banyak kawan dan lawan kagum dengan kepimpinannya serta taktik & strategi peperangannya yang dikatakan mendahului pada zamannya dan juga kaedah pemilihan tenteranya.
3.      Kekuasaan 
Kekuasaan adalah kemampuan menimbulkan ketundukan.Seperti kredibilitas dan atraksi, ketundukan ditimbulkan dari interaksi antara komunikator dengan komunikate. Kekuasaan menyebabkan seorang komunikator dapat “memaksakan” kehendaknya kepada orang lain.
Terbukti pada saat Sultan Muhammad mengganti nama Konstantinopel menjadi Islambol (Islam keseluruhannya). 

B.    Psikologi Pesan
Bahasa, pada gilirannya adalah pesan dalam bentuk kata-kata dan kalimat; untuk selanjutnya disebut pesan linguistik.Manusia mengucapkan kata-kata dan kalimat dengan cara-cara tertentu. Setiap cara berkata memberikan maksud tersendiri. Cara-cara ini disebut pesan paralinguistik.Tetapi manusia juga menyampaikan pesan dengan cara-cara lain selain dengan bahasa, misalkan dengan isyarat; ini disebut pesan ekstralinguistik.
Berikut adalah pesan verbal dan non verbal dalam pribadi tokoh Sultan Muhammad Al-Fatih.
1.      Pesan Verbal
Sebagimana yang kita ketahui pesan verbal adalah semua jenis simbol yang menggunakan satu kata atau lebih. Baik itu menggunakan bahasa maupun dengan kata-kata.
Sultan Muhammad Al-Fatih pun melancarkan serangan besar-besaran ke benteng Bizantium di sana. Takbir "Allahu Akbar, Allahu Akbar" terus membahana di angkasa Konstantinopel seakan-akan meruntuhkan langit kota itu. Pada akhir-akhir perang 27 Mei 1453 dua hari sebelum kemenangannya 29 Mei, Sultan Muhammad Al-Fatih memerintahkan agar bersama tentaranya berusaha keras membersihkan diri di hadapan Allah Subhana Wa Ta'ala. Mereka memperbanyak salat, doa, dan dzikir.
 Hingga tepat jam 1 pagi siang hari Selasa 20 Jumadil Awal 857 H atau bertepatan dengan tanggal 29 Mei 1453 M, serangan utama dilancarkan. Para mujahidin diperintahkan supaya meninggikan suara takbir kalimah tauhid sambil menyerang kota. Tentara Utsmaniyyah akhirnya berhasil menembus kota Konstantinopel melalui Pintu Edirne dan mereka mengibarkan bendera Daulah Utsmaniyyah di puncak kota. Kesungguhan dan semangat juang yang tinggi di kalangan tentara Al-Fatih akhirnya berjaya mengantarkan cita-cita mereka.


2.      Pesan Non verbal
Selanjutnya adalah pesan non verbal, dimana dalam pesan ini lebih mengutamakan bagaimana suatu pesan itu disampaikan bukan apa pesan itu. Pesan ini dapat kita lihat pada saat Sultan Muhammad Al-Fatih dengan emosi dan raut wajah yang sama sekali tidak ada keraguan dalam dirinya, memrintahkan tentaranya agar tetap yakin bahawa Allah selalu bersma orang-orang yang benar.


3.      Efek pesan
Efek dari pesan yang sisampaikan komunikator (Muhammad Al-Fatih) adalah dengan yakinnya para tentara dan satupun tidak ada keraguan yang melumpuhkan semangat mereka.
Akhirnya, pemimpin dan tentaranya menjadi sebaik-baik pemimpin dan tentara. Sebagaimana yang diramalkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam salah satu hadist:
"Konstantinopel akan ditaklukan oleh tentara Islam.Rajanya (yang menaklukan) adalah sebaik-baik raja dan tentaranya (yang menaklukan) adalah sebaik-baik tentara."

Daftar Rujukan
Rakhmat, Jalaluddin. 2012. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Wilkipedia ensiklopedia bebas.