Selasa, 17 September 2013

makalah analisis film MESTAKUNG melalui pendekatan psikologi komunikasi


 
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
1.     Sinopsis
Film ini di angkat dari kisah nyata yang menceritakan tentang Arief, seorang anak yang sangat mencintai Fisika. Meskipun mengalami kesulitan ekonomi tidak memadamkan kecintaannya pada dunia sains. Walau tinggal di sebuah dusun di Pamekasan, Madura yang jauh dari gemerlap kota dan fasilitas belajar yang memadai, Arif tetap menekuni Fisika. Beruntung ia mempunyai guru seperti Ibu Tari, seorang perempuan Minang yang karena dedikasinya terhadap dunia pendidikan rela "terdampar" di Madura untuk menemukan intan-intan pecinta ilmu sains.
Muhammad Arief (Sayef Muhammad Billah), anak dari keluarga miskin di Sumenep, Madura, sangat menggemari sains, khususnya fisika. Meski tinggal jauh dari kota besar dan bersekolah dengan fasilitas serba minim, Arief tetap menekuni fisika.
       Ia tinggal bersama ayahnya, Muslat (Lukman Sardi), mantan petani garam yang beralih profesi menjadi sopir truk serabutan karena ladang garam sedang dilanda paceklik. Ibu Arief, Salmah (Helmalia Putri), terpaksa bekerja sebagai TKW di Singapura. Arief bekerja di bengkel sepulang sekolah dengan cita-cita mengumpulkan uang untuk mencari ibunya. Arief dibantu oleh Cak Alul (Sudjiwo Tedjo), berandalan kampung.
       Di sekolah, Ibu Tari Hayat (Revalina S Temat), guru fisika, melihat bakat besar yang dimiliki Arief. Perempuan Minang yang mencintai dan memiliki dedikasi tinggi terhadap dunia pendidikan itu rela terdampar di Madura demi menemukan intan-intan cemerlang di antara murid-muridnya. Berkat dorongan Ibu Tari, Arief ikut seleksi olimpiade sains yang akan diadakan di Singapura. Arief memiliki agenda tersembunyi: menemukan ibunya di sana.
       



Seleksi dilakukan oleh Pak Tio Yohanes (Ferry Salim) di Jakarta, dibantu Deborah Sinaga (Febby Febiola). Arief menjalin persahabatan dengan Muhammad Thamrin (Angga Putra) dan Clara Annabela (Dinda Hauw). Arief sempat berseteru dengan Bima Wangsa (Rangga Raditya) dan Erwin Manik (Rendy Ahmad).
        Arief juga berkenalan dengan Cak Kumis (Indro Warkop), penjual ketoprak keliling asal Madura yang memberinya ilmu kehidupan. Pak Tio senantiasa menyemangati Arief dan peserta lain dengan mengajarkan sebuah keyakinan yang disebutnya MESTAKUNG atau semesta mendukung. Inti ajaran itu adalah bahwa apabila seseoang yakin, fokus, dan berusaha keras untuk mencapai sesuatu, ia pasti akan meraihnya karena seluruh semesta akan mendukung.


B.   Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep pola komunikasi tokoh-tokoh dalam film MESTAKUNG secara pendekatan psikologis?
2.  Apa saja faktor personal & situasional  yang mempengaruhi perilaku tokoh?
3.  Bagaimana kredibilitas/konsep diri yang dibangun?
4.  Bagaimana system komunikasi intrapersonal yang terjadi dalam diri tokoh.

BAB II
PEMBAHASAN

A.   Konsep pola komunikasi tokoh secara pendekatan psikologis
Pola komunikasi tokoh Muhammad Arief (Sayef Muhammad Billah) dalam film “MESTAKUNG” bila dianalisis dalam pendekatan psikologi bisa dilihat dari psikoanalisis, karena seperti yang telah kita ketahui dari seluruh aliran psikologi , psikoanalisis secara tegas memerhatikan struktur jiwa manusia. (Jalaluddin Rakhmat:2012:19)
Dari itu saya menangkap pola komunikasi yang terjadi dalam film “MESTAKUNG” meliputi cirri-ciri yang disebutkan oleh Fisher dalam pendekatan psikologi pada komunikasi, yaitu :
1.    Penerimaan stimuli secara indrawi (sensory reception of stimuly)
2.    Proses yang mengantarai stimuli dan respon (internal mediation of stimuly)
3.    Prediksi respon (prediction of response)
4.    Peneguhan respons (reinforcement of responses)
Intinya pola komunikasi yang teradi dalam film “MESTAKUNG” adalah mengenai peristiwa social—peristiwa yang berlangsung ketika manusia satu berinteraksi dengan manusia lainnya.
Tedapat pula adanya kefektifan komunikasi dalam film “MESTAKUNG” seperti adanya, pengertian, kesenangan, memepengaruhi sikap, hubungan social yang baik, dan adanya tindakan yang pada akhirnya membawa buah kemenangan tokoh Muhammad Arief (Sayef Muhammad Billah) dalam olimpiade sains.
B.   Faktor personal & situasional yang mempengaruhi tokoh
1.    Faktor Personal
Factor personal atau factor yang timbul dalam setiap diri individu dalam film “MESTAKUNG” hususnya tokoh Muhammad Arief (Sayef Muhammad Billah) adalah sebagai berikut:
a.    Faktor biologis
Sebagaimana setiap manusia adalah makhluk biologis yang tidak jauh berbeda dengan hewan. Manusia akan merasa kelaparan jika tidak makan selama dua puluh jam, begitu pula dengan kucing dan hewan lainnya. Inti



pada factor biologis adalah setiap makhluk ingin mencapai kebahagiaan dengan memenuhi keinginanya.
Seperti keinginan Muhammad Arief (Sayef Muhammad Billah) yang rela bekerja mengumpulkan uang setelah pulang sekolah hanya untuk mencari ibunya yang menjadi TKW di singapura.
b.    Faktor sosiopsikologis
Lantaran manusia adalah makhluk social, dimana dengan berputarnya proses social tersebut manusia akan memperoleh beberapa karakteristik yang mempengaruhi setiap prilakunya.
Inti dari factor psikologis ini terdapat pada tiga komponen:pertama, afektif (aspek emosional dari factor sosiopsikologis), kedua, kognitif (aspek intelektual)dan ketiga, konatif (aspek volisional) yang berhubungan dengan kebiasaan dan kemauan bertindak.
Hal tersebut dapat kita lihat dalam tokoh Muhammad Arief (Sayef Muhammad Billah)  yang mempunyai ambisi dan visi tersembunyi (mencari ibunya) ketika mengikuti seleksi olimpiade sains untuk mewakili Indonesia.
2.    Faktor situasional
Factor situasional yang mempngaruhi tokoh Muhammad Arief (Sayef Muhammad Billah)  dalam film “MESTAKUNG” lebih dominan pada rangangan lingkungan. Seperti ungkapan kaum determinisme lingkungan seringkali menyatakan bahwa keadaan alam lebih cendrung mempengaruhi gaya hidup dan prilaku seseorang.
C.   Kredibilitas/konsep diri yang dibangun
Dalam film “MESTAKUNG” tokoh Muhammad Arief (Sayef Muhammad Billah)  membangun kredibilitas atau konsep diri dengan bantuan orang lain. Dimana dalam film tersebut tokoh Muhammad Arief (Sayef Muhammad Billah)  sempat depresi dan kehilangan jati dirinya lantaran mendapat nilai paling jelek. Akan tetapi ada orang lain, Cak Kumis (Indro Warkop), penjual ketoprak keliling asal Madura yang memberinya ilmu kehidupan, sampai akhirnya jati diri serta keyakinan Muhammad Arief (Sayef Muhammad Billah)  kembali bersemangat lagi.




D.   System komunikasi intrapersonal yang terjadi dalam diri tokoh
System komunikasi intrapersonal yang terjadi dalam diri tokoh Muhammad Arief (Sayef Muhammad Billah) dalam film “MESTAKUNG” meliputi penerimaan pesan, mengelolanya, menyimpannya, kemudian memnghasilkannya kembali. Dimana proses tersebut bisa dilihat dari sensasi, persepsi, memori, dan berpikir.
Dalam film tersebut System komunikasi intrapersonal yang terjadi dalam diri tokoh Muhammad Arief (Sayef Muhammad Billah) adalah ketika dia baru sampai dijakarta, diberikan pelatihan mengenai dunia sains, yang oleh Muhammad Arief (Sayef Muhammad Billah) pelajaran tersebut diproses untuk dimasukkan kememorinya, kemudian dipikirkan apa yang bisa dia perbuat dari pelajaran yang didapat.
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Inti dari proses komunkasi yang terjadi pada tokoh Muhammad Arief (Sayef Muhammad Billah) Adalah adanya factor ligkungan dan keinginan yang memicu timbulnya komunikasi efektif. Dan setelah saya menonton film tersebut ada rasa percaya diri dalam diri saya, bias dikatakan saya ikut terpengaruh oleh pesan yang disampaikan film tersebut, karena film tersebut menceritakan tentang betapa mudahnya keinginan dicapai asalkan ada niat baik, tujuan tepat, disertai dengan usaha yang sungguh-sungguh, juga keyakinan atau rasa percaya diri, niscaya MESTAKUNG semesta akan mendukung.


Daftar Pustaka
Rakhmat, Jalaluddin. 2012. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Wilkipedia ensiklopedia bebas.