BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
1. Sinopsis
Film ini di angkat dari kisah nyata yang menceritakan
tentang Arief, seorang anak yang sangat mencintai Fisika. Meskipun mengalami
kesulitan ekonomi tidak memadamkan kecintaannya pada dunia sains. Walau tinggal
di sebuah dusun di Pamekasan, Madura yang jauh dari gemerlap kota dan fasilitas
belajar yang memadai, Arif tetap menekuni Fisika. Beruntung ia mempunyai guru
seperti Ibu Tari, seorang perempuan Minang yang karena dedikasinya terhadap
dunia pendidikan rela "terdampar" di Madura untuk menemukan
intan-intan pecinta ilmu sains.
Muhammad Arief (Sayef Muhammad
Billah), anak dari keluarga miskin di Sumenep, Madura, sangat menggemari sains,
khususnya fisika. Meski tinggal jauh dari kota besar dan bersekolah dengan
fasilitas serba minim, Arief tetap menekuni fisika.
Ia tinggal bersama ayahnya, Muslat (Lukman Sardi), mantan petani garam yang beralih profesi menjadi sopir truk serabutan karena ladang garam sedang dilanda paceklik. Ibu Arief, Salmah (Helmalia Putri), terpaksa bekerja sebagai TKW di Singapura. Arief bekerja di bengkel sepulang sekolah dengan cita-cita mengumpulkan uang untuk mencari ibunya. Arief dibantu oleh Cak Alul (Sudjiwo Tedjo), berandalan kampung.
Di sekolah, Ibu Tari Hayat (Revalina S Temat), guru fisika, melihat bakat besar yang dimiliki Arief. Perempuan Minang yang mencintai dan memiliki dedikasi tinggi terhadap dunia pendidikan itu rela terdampar di Madura demi menemukan intan-intan cemerlang di antara murid-muridnya. Berkat dorongan Ibu Tari, Arief ikut seleksi olimpiade sains yang akan diadakan di Singapura. Arief memiliki agenda tersembunyi: menemukan ibunya di sana.
Ia tinggal bersama ayahnya, Muslat (Lukman Sardi), mantan petani garam yang beralih profesi menjadi sopir truk serabutan karena ladang garam sedang dilanda paceklik. Ibu Arief, Salmah (Helmalia Putri), terpaksa bekerja sebagai TKW di Singapura. Arief bekerja di bengkel sepulang sekolah dengan cita-cita mengumpulkan uang untuk mencari ibunya. Arief dibantu oleh Cak Alul (Sudjiwo Tedjo), berandalan kampung.
Di sekolah, Ibu Tari Hayat (Revalina S Temat), guru fisika, melihat bakat besar yang dimiliki Arief. Perempuan Minang yang mencintai dan memiliki dedikasi tinggi terhadap dunia pendidikan itu rela terdampar di Madura demi menemukan intan-intan cemerlang di antara murid-muridnya. Berkat dorongan Ibu Tari, Arief ikut seleksi olimpiade sains yang akan diadakan di Singapura. Arief memiliki agenda tersembunyi: menemukan ibunya di sana.
Seleksi dilakukan oleh Pak Tio Yohanes
(Ferry Salim) di Jakarta, dibantu Deborah Sinaga (Febby Febiola). Arief
menjalin persahabatan dengan Muhammad Thamrin (Angga Putra) dan Clara Annabela
(Dinda Hauw). Arief sempat berseteru dengan Bima Wangsa (Rangga Raditya) dan
Erwin Manik (Rendy Ahmad).
Arief juga berkenalan dengan Cak Kumis (Indro Warkop), penjual ketoprak keliling asal Madura yang memberinya ilmu kehidupan. Pak Tio senantiasa menyemangati Arief dan peserta lain dengan mengajarkan sebuah keyakinan yang disebutnya MESTAKUNG atau semesta mendukung. Inti ajaran itu adalah bahwa apabila seseoang yakin, fokus, dan berusaha keras untuk mencapai sesuatu, ia pasti akan meraihnya karena seluruh semesta akan mendukung.
Arief juga berkenalan dengan Cak Kumis (Indro Warkop), penjual ketoprak keliling asal Madura yang memberinya ilmu kehidupan. Pak Tio senantiasa menyemangati Arief dan peserta lain dengan mengajarkan sebuah keyakinan yang disebutnya MESTAKUNG atau semesta mendukung. Inti ajaran itu adalah bahwa apabila seseoang yakin, fokus, dan berusaha keras untuk mencapai sesuatu, ia pasti akan meraihnya karena seluruh semesta akan mendukung.
B.
Rumusan
Masalah
1. Bagaimana konsep pola komunikasi
tokoh-tokoh dalam film MESTAKUNG secara pendekatan psikologis?
2.
Apa saja faktor personal &
situasional yang mempengaruhi perilaku
tokoh?
3.
Bagaimana kredibilitas/konsep diri yang
dibangun?
4.
Bagaimana system komunikasi
intrapersonal yang terjadi dalam diri tokoh.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Konsep pola komunikasi tokoh secara
pendekatan psikologis
Pola komunikasi
tokoh Muhammad Arief
(Sayef Muhammad Billah) dalam film “MESTAKUNG” bila
dianalisis dalam pendekatan psikologi bisa dilihat dari psikoanalisis, karena
seperti yang telah kita ketahui dari seluruh aliran psikologi , psikoanalisis
secara tegas memerhatikan struktur jiwa manusia. (Jalaluddin Rakhmat:2012:19)
Dari itu saya
menangkap pola komunikasi yang terjadi dalam film “MESTAKUNG” meliputi
cirri-ciri yang disebutkan oleh Fisher dalam pendekatan psikologi pada
komunikasi, yaitu :
1.
Penerimaan stimuli secara indrawi (sensory reception of stimuly)
2.
Proses yang mengantarai stimuli dan
respon (internal mediation of stimuly)
3.
Prediksi respon (prediction of response)
4.
Peneguhan respons (reinforcement of responses)
Intinya pola komunikasi yang teradi dalam film “MESTAKUNG”
adalah mengenai peristiwa social—peristiwa yang berlangsung ketika manusia satu
berinteraksi dengan manusia lainnya.
Tedapat
pula adanya kefektifan komunikasi dalam film “MESTAKUNG” seperti adanya,
pengertian, kesenangan, memepengaruhi sikap, hubungan social yang baik, dan
adanya tindakan yang pada akhirnya membawa buah kemenangan tokoh Muhammad Arief (Sayef Muhammad Billah)
dalam olimpiade sains.
B. Faktor personal & situasional
yang mempengaruhi tokoh
1.
Faktor Personal
Factor personal atau factor yang
timbul dalam setiap diri individu dalam film “MESTAKUNG” hususnya tokoh Muhammad Arief (Sayef Muhammad Billah)
adalah sebagai berikut:
a.
Faktor
biologis
Sebagaimana
setiap manusia adalah makhluk biologis yang tidak jauh berbeda dengan hewan.
Manusia akan merasa kelaparan jika tidak makan selama dua puluh jam, begitu
pula dengan kucing dan hewan lainnya. Inti
pada factor
biologis adalah setiap makhluk ingin mencapai kebahagiaan dengan memenuhi
keinginanya.
Seperti
keinginan Muhammad Arief (Sayef Muhammad Billah) yang rela bekerja mengumpulkan
uang setelah pulang sekolah hanya untuk mencari ibunya yang menjadi TKW di
singapura.
b.
Faktor
sosiopsikologis
Lantaran
manusia adalah makhluk social, dimana dengan berputarnya proses social tersebut
manusia akan memperoleh beberapa karakteristik yang mempengaruhi setiap
prilakunya.
Inti dari
factor psikologis ini terdapat pada tiga komponen:pertama, afektif (aspek
emosional dari factor sosiopsikologis), kedua, kognitif (aspek intelektual)dan
ketiga, konatif (aspek volisional) yang berhubungan dengan kebiasaan dan
kemauan bertindak.
Hal tersebut
dapat kita lihat dalam tokoh Muhammad Arief (Sayef Muhammad Billah) yang mempunyai ambisi dan visi tersembunyi
(mencari ibunya) ketika mengikuti seleksi olimpiade sains untuk mewakili
Indonesia.
2.
Faktor situasional
Factor situasional yang mempngaruhi tokoh Muhammad Arief (Sayef Muhammad
Billah) dalam film
“MESTAKUNG” lebih dominan pada rangangan lingkungan. Seperti ungkapan kaum
determinisme lingkungan seringkali menyatakan bahwa keadaan alam lebih cendrung
mempengaruhi gaya hidup dan prilaku seseorang.
C. Kredibilitas/konsep diri yang
dibangun
Dalam
film “MESTAKUNG” tokoh
Muhammad Arief (Sayef Muhammad Billah)
membangun kredibilitas atau konsep diri dengan bantuan orang lain.
Dimana dalam film tersebut tokoh Muhammad Arief (Sayef Muhammad Billah) sempat depresi dan kehilangan jati dirinya
lantaran mendapat nilai paling jelek. Akan tetapi ada orang lain, Cak Kumis
(Indro Warkop), penjual ketoprak keliling asal Madura yang memberinya ilmu
kehidupan, sampai akhirnya jati diri serta keyakinan Muhammad Arief (Sayef
Muhammad Billah) kembali bersemangat
lagi.
D. System komunikasi intrapersonal yang
terjadi dalam diri tokoh
System komunikasi intrapersonal yang
terjadi dalam diri tokoh Muhammad
Arief (Sayef Muhammad Billah) dalam film “MESTAKUNG” meliputi penerimaan
pesan, mengelolanya, menyimpannya, kemudian memnghasilkannya kembali. Dimana
proses tersebut bisa dilihat dari sensasi, persepsi, memori, dan berpikir.
Dalam film tersebut System
komunikasi intrapersonal yang terjadi dalam diri tokoh Muhammad Arief (Sayef Muhammad Billah)
adalah ketika dia baru sampai dijakarta, diberikan pelatihan mengenai dunia
sains, yang oleh Muhammad Arief (Sayef Muhammad Billah) pelajaran tersebut
diproses untuk dimasukkan kememorinya, kemudian dipikirkan apa yang bisa dia
perbuat dari pelajaran yang didapat.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Inti dari proses komunkasi yang terjadi pada tokoh Muhammad Arief (Sayef Muhammad Billah)
Adalah adanya factor ligkungan dan keinginan yang memicu timbulnya komunikasi
efektif. Dan setelah saya menonton film tersebut ada rasa percaya diri dalam
diri saya, bias dikatakan saya ikut terpengaruh oleh pesan yang disampaikan
film tersebut, karena film tersebut menceritakan tentang betapa mudahnya
keinginan dicapai asalkan ada niat baik, tujuan tepat, disertai dengan usaha
yang sungguh-sungguh, juga keyakinan atau rasa percaya diri, niscaya MESTAKUNG
semesta akan mendukung.
Daftar
Pustaka
Rakhmat, Jalaluddin. 2012. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Wilkipedia ensiklopedia bebas.